Wisata
Dulu Diragukan, Kini Menghidupi Banyak Warga: Temesi Waterfall Rayakan HUT ke-2 dan Bagikan Hasil kepada 13 Pihak
Minggu, 08 Februari 2026
HUT Temesi Waterfall ke-2 tahun
GIANYAR | Newsyess.com
Di tengah rimbunnya alam Desa Temesi, Kecamatan Gianyar, gemuruh air yang jatuh dari ketinggian kini bukan hanya menjadi nyanyian alam, tetapi juga menjadi suara harapan bagi warga. Air terjun yang dahulu diragukan keberadaannya, kini justru menjelma menjadi sumber kehidupan dan kebanggaan masyarakat desa. Pada Minggu, 8 Februari 2026, Desa Temesi merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 Temesi Waterfall, sebuah destinasi wisata yang lahir dari gotong royong, keyakinan, dan keberanian untuk bermimpi.
Perayaan yang berlangsung di kawasan Temesi Waterfall itu dirangkaikan dengan sejumlah agenda penting, di antaranya pelantikan pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengukuhan Forum Komunikasi (Forkom) Desa Temesi, serta penyerahan bagi hasil operasional kepada 13 pihak yang selama ini terlibat langsung dalam pengelolaan objek wisata tersebut. Tak hanya itu, pada kesempatan tersebut juga diserahkan perangkat drumband kepada anak-anak TK sebagai bentuk investasi moral dan budaya bagi generasi masa depan.
Perbekel Desa Temesi, Ketut Branayoga, yang biasa Di panggil Ahok Temesi mengungkapkan bahwa perjalanan Temesi Waterfall bukanlah kisah instan, melainkan perjalanan panjang yang diawali dengan keraguan dan keterbatasan.
“Di awal, bahkan belum ada dana dari APBDes. Modal kami hanya semangat dan sumbangan sukarela warga. Kami menggali dana hingga terkumpul sekitar Rp50 juta. Dengan gotong royong, kami membuka akses sederhana menuju air terjun. Dari situlah semuanya bermula,” ujarnya.
Dana swadaya tersebut menjadi fondasi awal lahirnya destinasi wisata yang kini menjadi kebanggaan desa. Melihat potensi yang berkembang, Pemerintah Desa Temesi kemudian mengalokasikan anggaran melalui tiga tahap APBDes dengan total sekitar Rp425 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun akses jalan, fasilitas dasar, serta gedung penunjang operasional.
Upaya itu kini mulai menunjukkan hasil nyata. Hingga memasuki usia dua tahun, Temesi Waterfall telah menghasilkan sekitar Rp70 juta dari operasionalnya. Pada momentum perayaan HUT ke-2 ini, hasil tersebut diserahkan secara simbolis kepada 13 pihak yang menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan, yakni tiga subak, empat pemilik lahan, tiga banjar (Temesi, Pegesangan, dan Peteluan), BUMDes, Pokdarwis, serta dana cadangan desa.
“Keberadaan Temesi Waterfall ini bukan milik perorangan, tetapi milik seluruh masyarakat Desa Temesi. Karena itu, setiap bulan, 13 pihak tersebut akan menerima bagian sesuai persentase yang telah disepakati bersama. Tujuannya agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara kolektif,” jelas Branayoga.
Ia menegaskan, Temesi Waterfall akan terus dikembangkan sebagai pilot project desa dalam membangun pariwisata berbasis masyarakat. Pemerintah desa berkomitmen untuk terus mendukung pembangunan fasilitas penunjang seperti aula, pusat kuliner, serta berbagai atraksi wisata lainnya.
“Apa yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk kita sekarang, tetapi untuk generasi berikutnya. Tahun 2026 ini, kami ingin meninggalkan warisan terbaik bagi anak cucu,” tegasnya.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Temesi Waterfall juga menjadi simbol kebangkitan desa melalui kekuatan sumber daya manusia. Branayoga menyebutkan, warga Desa Temesi memiliki potensi luar biasa di bidang pariwisata. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai praktisi pariwisata dan menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Jepang, Rusia, Prancis, Spanyol, dan Jerman.
“Walaupun desa kami kecil, hanya terdiri dari tiga banjar, kami memiliki sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Jika semua stakeholder bersatu, bukan tidak mungkin Desa Temesi suatu hari akan mengharumkan nama Bali dan Indonesia,” ujarnya optimistis.
Selain itu, pembentukan Forum Komunikasi Desa Temesi menjadi langkah strategis dalam memperkuat solidaritas warga, baik yang tinggal di desa maupun yang berada di luar daerah, termasuk di Jakarta, Kalimantan, hingga Papua. Forum ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk merancang masa depan desa secara kolektif.
Perayaan HUT ke-2 Temesi Waterfall juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Pariwisata, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Disperindag, Kesbangpol, BPBD, Satpol PP, serta unsur masyarakat Desa Temesi. Kehadiran berbagai pihak tersebut menjadi bukti kuatnya dukungan lintas sektor terhadap pengembangan pariwisata berbasis desa di Gianyar timur.
Kini, air yang jatuh dari Temesi Waterfall bukan lagi sekadar aliran alam. Ia telah menjadi saksi bahwa dari keraguan dapat lahir keyakinan, dari keterbatasan dapat tumbuh harapan, dan dari kebersamaan dapat tercipta masa depan.
Temesi Waterfall bukan hanya destinasi wisata. Ia adalah warisan. Ia adalah bukti bahwa ketika desa percaya pada dirinya sendiri, maka dunia pun akan datang untuk menyaksikannya.
(Tim Newsyess)
TAGS :