Tokoh
Gung Cok Tegaskan Pentingnya Peran Masyarakat Jaga Keaslian Bali: “Kalau Sudah Jadi Deretan Toko dan Bar, Apa Jadinya Bali Ini?”
Rabu, 03 Desember 2025
Pansus trap DPRD bali sidak di jatiluwih
Tabanan | Newsyess.com — Wakil Ketua Pansus TRAP DPRD Bali, Anak Agung Bagus Tri Candra Arka (Gung Cok), menegaskan bahwa upaya penertiban pelanggaran tata ruang di kawasan persawahan bukan hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat. Hal itu disampaikan saat turun langsung bersama Pansus TRAP untuk mengecek pelanggaran pemanfaatan ruang, khususnya pada lahan sawah yang masuk kategori LP2B dan menjadi bagian penting lanskap budaya Subak.
Dalam pemantauan tersebut, Gung Cok mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah daerah, termasuk Surat Peringatan (SP) 1 hingga SP3 kepada usaha-usaha yang melanggar aturan. Namun ia menegaskan bahwa tindakan tersebut harus menjadi efek jera agar pelanggaran tidak semakin meluas.
Baca juga:
Jatiluwih Terancam! Pansus TRAP Ungkap 13 Pelanggaran Kerusakan Sistematis di Kawasan Warisan Dunia
“Yang terpenting hari ini adalah memastikan tidak ada lagi usaha atau aktivitas baru yang melanggar hukum. Dari 13 bisa jadi 20, kemudian 25 apa jadinya Bali ini kalau dibiarkan? Keindahan alamnya pasti hilang,” ujar Gung Cok.
Masyarakat Harus Turut Menjaga Sawah, Bukan Menutupinya dengan Bangunan
Gung Cok menekankan bahwa seluruh program pemerintah tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan masyarakat. Terlebih, kawasan yang ditinjau merupakan bagian dari hamparan sawah produktif yang tidak hanya menopang ekosistem Subak, tetapi juga menjadi unsur penting dalam status Warisan Budaya Dunia UNESCO.
“Kami mohon kepada masyarakat, khususnya di Jatiluwih ini, mari bersama-sama menjaga alam sawah. Sawah ini bukan hanya ruang ekonomi, tapi juga warisan budaya dunia yang harus dilestarikan. Biarkan air Subak terlihat mengalir indah dari atas ke bawah, jangan ditutup oleh bangunan toko atau bar,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan tanpa kendali dapat merusak nilai estetika dan spiritual Bali yang selama ini menjadi daya tarik dunia. “Ekonomi memang penting, tapi jangan sampai mengorbankan alam Bali,” katanya.
Apresiasi untuk Dukungan Pemkab dan Petani
Dalam kesempatan itu, Gung Cok juga mengecek langsung kondisi lahan pertanian dan bertanya mengenai dukungan pemerintah terhadap petani, termasuk penyediaan bibit dan pemeliharaan. Ia mengapresiasi Pemkab Tabanan yang telah memberikan bantuan dan perhatian terhadap keberlanjutan pertanian, khususnya bibit lokal dan padi Bali.
“Terima kasih kepada Pemkab Tabanan yang sudah mendukung pemeliharaan sawah. Apalagi yang ditanam adalah padi Bali, bibit lokal unggulan yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Pansus TRAP: Pastikan Tidak Ada Lagi Pelanggaran Baru
Gung Cok menegaskan bahwa kehadiran Pansus TRAP di lapangan bukan hanya untuk menindak pelanggaran yang sudah terjadi, tetapi juga mencegah agar tidak ada lagi aktivitas ilegal ke depan.
“Kami turun untuk memastikan tidak ada lagi perkembangan atau penambahan bangunan yang melanggar hukum. Pemerintah sudah bekerja, tapi tanpa kesadaran masyarakat, penertiban tidak akan berhasil,” ucapnya.
Menurutnya, tindakan tegas seperti SP 3 harus menjadi pelajaran bagi para pelaku usaha agar tidak asal mendirikan bangunan di zona pertanian yang dilindungi.
Dengan kerja sama pemerintah, petani, dan masyarakat, Gung Cok berharap kawasan persawahan Bali tetap terjaga keasliannya, tetap hijau, dan tetap menjadi bagian penting identitas budaya Bali yang diwariskan untuk generasi mendatang.
(Tim Newsyess)
TAGS :