Wisata
Ketut Trikaya Wijaya Manik: Temesi Waterfall Lahir dari Keyakinan, Kini Tumbuh Menjadi Harapan Gianyar Timur
Minggu, 08 Februari 2026
Temesi Waterfall rayakan HUT ke-2 tahun
GIANYAR | Newsyess.com -
Di balik gemuruh air yang jatuh dari tebing Temesi Waterfall, tersimpan kisah panjang tentang keyakinan, pengorbanan, dan semangat kebersamaan. Bagi Ketut Trikaya Wijaya Manik yang kini memegang peran strategis sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Ketua Forum Komunikasi Desa (Forkomdes), sekaligus Ketua Yayasan Pengolahan Sampah Temesi air terjun ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol perjuangan masyarakat Desa Temesi dalam menjemput masa depan.
Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 Temesi Waterfall menjadi refleksi atas perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah wacana sederhana, namun sarat makna.
“Gagasan pengembangan air terjun ini sebenarnya mulai mengerucut sekitar 3 sampai 4 tahun lalu, tepat saat pembentukan Pokdarwis. Saat itu, kami secara spontan ingin menggali dan mengembangkan potensi pariwisata Gianyar Timur, agar tidak terjadi kesenjangan dengan wilayah Gianyar Barat yang lebih dulu berkembang,” ungkap Ketut Trikaya Wijaya Manik.
Ia menjelaskan, dari berbagai potensi yang ada, air terjun dipilih sebagai langkah awal karena dinilai paling memungkinkan untuk dikembangkan dengan sumber daya yang dimiliki masyarakat saat itu.
Lahir dari Keterbatasan, Tumbuh dengan Gotong Royong
Perjalanan Temesi Waterfall tidaklah mudah. Di tahap awal, Pokdarwis yang baru terbentuk belum memiliki anggaran sama sekali. Namun keterbatasan tidak menjadi penghalang. Dengan semangat gotong royong, masyarakat mulai bergerak, melakukan pendekatan kepada empat pemilik lahan, berkoordinasi dengan subak, hingga mencari dukungan permodalan, bahkan melalui pinjaman pribadi.
“Kami harus membangun dari nol. Tidak ada dana, tidak ada fasilitas. Semua dilakukan dengan pendekatan, komunikasi, dan kepercayaan. Kami bersyukur, semua pihak akhirnya bersedia bekerja sama demi terwujudnya air terjun ini,” jelasnya.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Dua tahun lalu, Temesi Waterfall resmi beroperasi dan diresmikan oleh pemerintah, disaksikan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan.
Seiring waktu, perkembangan mulai terasa, meskipun berbagai tantangan tetap hadir, terutama dalam menyatukan persepsi masyarakat yang beragam.
“Menyatukan visi masyarakat tidak mudah, tetapi kini kami sudah menemukan formula yang tepat, terutama dalam sistem pembagian kontribusi kepada pihak-pihak yang terlibat,” katanya.
Pengembangan Kuliner Jadi Prioritas Berikutnya
Meski telah berjalan selama dua tahun, pihak pengelola mengakui masih banyak hal yang perlu disempurnakan, termasuk pengembangan fasilitas dan layanan pendukung. Salah satu fokus utama ke depan adalah pengembangan sektor kuliner sebagai bagian dari ekosistem wisata.
“Kami realistis. Tahap berikutnya yang paling memungkinkan adalah pengembangan kuliner. Wisatawan yang datang tentu membutuhkan makanan dan minuman. Ke depan, kami ingin menghadirkan kuliner khas, mungkin makanan tradisional Bali seperti babi guling atau sajian khas lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan kuliner tidak hanya meningkatkan pengalaman wisatawan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Mengembalikan Pariwisata kepada Masyarakat
Sebagai praktisi pariwisata, Ketut Trikaya Wijaya Manik memandang Temesi Waterfall sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Ia bersama sejumlah pelaku pariwisata lainnya ingin mengembalikan manfaat sektor pariwisata kepada desa yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
“Kami sudah mendapatkan rezeki dari pariwisata. Sekarang, saatnya kami mempersembahkan sesuatu kembali kepada masyarakat. Ini bukan hanya tentang wisata, tetapi tentang warisan untuk generasi mendatang,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan dan menekan ego demi keberlanjutan pembangunan desa.
“Pesan kami sederhana: mari bersatu, turunkan ego, dan berjalan bersama. Dengan kebersamaan, perjalanan kita akan lebih lancar dan tujuan akan lebih mudah tercapai,” ujarnya.
Optimisme Menatap Masa Depan
Ketut Trikaya Wijaya Manik mengaku optimis Temesi Waterfall akan terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Ia menekankan, kunci utama keberhasilan terletak pada persatuan, partisipasi, dan rasa syukur.
“Kami optimis. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat bersatu dan bersyukur. Dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar. Itu adalah perjalanan yang patut kita syukuri,” katanya.
Kini, Temesi Waterfall bukan lagi sekadar air terjun di sudut desa. Ia telah menjadi simbol kebangkitan, bukti bahwa dengan keyakinan dan kebersamaan, masyarakat mampu menciptakan masa depan mereka sendiri setetes demi setetes, hingga menjadi aliran harapan yang tak pernah berhenti.
(Tim Newsyess)
TAGS :