Wisata
Kunjungan Wisatawan Pura Tirta Empul Tampaksiring Stabil, Tembus 4.000 Orang per Hari
Senin, 05 Januari 2026
Pura tirta empul tampaksiring
Gianyar | Newsyess.com —
Objek wisata spiritual Pura Tirta Empul, Desa Adat Manukaya Let, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, hingga awal tahun 2026 masih mencatatkan angka kunjungan yang stabil. Rata-rata kunjungan wisatawan mencapai sekitar 4.000 orang per hari, didominasi oleh pemedek dan wisatawan yang datang untuk tujuan spiritual.
Hal tersebut disampaikan oleh tokoh masyarakat Desa Adat Manukaya Let, I Made Arya Wiguna, S.E., yang juga menjabat sebagai Kelian Gong Gede Pura Tirta Empul, saat ditemui pada Senin (5/1/2026).
Menurutnya, Pura Tirta Empul memiliki karakter yang berbeda dibandingkan objek wisata lainnya, karena kekuatan utama pura ini terletak pada nilai spiritual dan ritual melukat yang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu.
“Kalau di Tirta Empul ini ada dua sisi. Ada yang datang memang untuk kebutuhan spiritual, dan ada juga yang sekadar ingin tahu. Tapi secara spiritual, pura ini tidak pernah sepi,” ujar Arya Wiguna.
Ia menjelaskan, kunjungan yang bersifat ritual dan spiritual cenderung stabil sepanjang tahun. Berbeda dengan kunjungan wisata biasa yang bisa mengalami fluktuasi, pemedek yang datang untuk melukat hampir selalu ada setiap hari.
“Mungkin berbeda dengan objek wisata lain. Tirta Empul ini tujuannya lebih ke spiritual. Jadi orang datang bukan sekadar ingin tahu, tetapi memang untuk ritual melukat,” jelasnya.
Ritual Melukat Jadi Daya Tarik Utama
Arya Wiguna menambahkan, ritual “melukat” menjadi daya tarik utama Pura Tirta Empul. Di kawasan pura terdapat beberapa pancuran yang secara tradisi dipercaya memiliki makna penyucian diri.
“Melukat itu yang pertama. Selain itu, di Tirta Empul ada beberapa pancuran yang secara tradisi tidak pernah dibalik atau ditutup. Itu yang membuat pura ini sangat khas,” katanya.
Bahkan, menurut catatan sejarah, Pura Tirta Empul diperkirakan telah ada sejak sekitar abad ke-10 Masehi, atau kurang lebih 1.100 tahun lalu, sehingga memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat kuat.
Wisatawan Campuran Lokal dan Mancanegara
Dari sisi komposisi pengunjung, Arya Wiguna menyebutkan bahwa wisatawan yang datang merupakan campuran wisatawan domestik dan mancanegara. Namun, untuk pemedek yang datang khusus untuk ritual melukat, wisatawan domestik masih mendominasi.
“Campur. Ada wisatawan lokal dan luar negeri. Tapi kalau untuk melukat, memang lebih banyak domestik,” ungkapnya.
Selain itu, pada masa libur sekolah, kunjungan dari kalangan pelajar juga cukup tinggi. Banyak siswa yang datang bersama keluarga atau rombongan untuk melakukan ritual melukat.
Pendapatan dan Distribusi ke Desa Adat
Dengan rata-rata kunjungan sekitar 4.000 orang per hari dan harga tiket masuk Rp 50.000, Pura Tirta Empul turut memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Namun, Arya Wiguna menjelaskan bahwa pendapatan tersebut dibagi sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan.
“Untuk desa adat, saat ini mendapat bagian sekitar 40 persen dari pendapatan per bulan.sedangkan 60 persen ke Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar. Tapi tentu dana itu juga digunakan untuk biaya operasional, upacara wali, dan menggaji puluhan pegawai yang bekerja di kawasan pura,” jelasnya.
Menurutnya, besaran pendapatan tersebut masih tergolong terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan pemeliharaan kawasan pura yang cukup luas dan memiliki nilai sakral tinggi.
Harapan Perbaikan Fasilitas dan Promosi
Sebagai pengelola adat, Arya Wiguna berharap ke depan ada perhatian lebih dari pemerintah daerah, khususnya dalam peningkatan fasilitas dan promosi.
“Kalau dari desa adat, kami fokus ke pelayanan. Tapi soal promosi dan pengembangan fasilitas, seharusnya menjadi peran pemerintah,” ujarnya.
Ia menyoroti beberapa fasilitas yang perlu mendapat pembenahan, seperti area parkir, toilet, dan akses di beberapa titik yang kerap padat pengunjung. Meski kondisi saat ini dinilai cukup, perbaikan dinilai penting untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Terkait harga tiket, ia memastikan bahwa hingga saat ini belum ada rencana kenaikan tarif, dan tiket masih ditetapkan sebesar Rp50.000 sesuai kebijakan pemerintah.
Kunjungan Tetap Stabil
Menutup keterangannya, Arya Wiguna menegaskan bahwa hingga kini tidak terjadi penurunan maupun lonjakan signifikan dalam jumlah kunjungan wisatawan ke Pura Tirta Empul.
“Masih stabil. Karena objek ini memang khusus ritual dan punya sejarah panjang. Latar belakang sejarah dan spiritual itulah yang membuat Tirta Empul tetap diminati,” pungkasnya.
Dengan kekuatan sejarah, spiritualitas, dan dukungan lingkungan budaya Tampaksiring, Pura Tirta Empul diyakini akan terus menjadi salah satu pusat wisata spiritual utama di Bali.
(Tim Newayess)
TAGS :