Wisata
Pengelola Penglipuran Tepis Isu Wisatawan Sepi di Bali, Kunjungan Tetap Stabil Meski Turun Tipis
Minggu, 28 Desember 2025
Desa wisata Penglipuran Bangli
Bangli | Newsyess.com – Isu menurunnya kunjungan wisatawan ke Bali belakangan ini ditepis oleh pengelola Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli. Berdasarkan data riil kunjungan, Penglipuran masih menunjukkan tingkat kunjungan yang stabil, terutama selama libur panjang dan menjelang Natal serta Tahun Baru 2026.
Manajer Desa Wisata Penglipuran, Wayan Sumiarsa, menyampaikan bahwa rata-rata kunjungan wisatawan selama periode libur panjang berada di angka sekitar 4.500 orang per hari. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan wisatawan nusantara.
“Wisatawan lokal masih mendominasi, sekitar 4.100 orang per hari, sementara wisatawan mancanegara berada di kisaran 400 orang per hari. Ini menunjukkan bahwa Penglipuran masih memiliki daya tarik yang kuat,” ungkap Wayan Sumiarsa, Minggu (28/12/2025).
Menurutnya, meskipun terdapat penurunan dibandingkan periode libur panjang tahun sebelumnya, penurunan tersebut tidak signifikan, hanya berada di kisaran 7 persen.
“Ada penurunan, itu tidak bisa dibungkiri. Namun angkanya tidak tinggi dan masih dalam batas wajar, khususnya di Desa Wisata Penglipuran,” tegasnya.
Kebersihan dan Budaya Jadi Daya Tarik Utama
Wayan Sumiarsa menilai, konsistensi Penglipuran dalam menjaga kebersihan lingkungan, tata ruang, serta kelestarian adat dan budaya menjadi faktor utama yang membuat desa wisata ini tetap diminati di tengah berbagai isu pariwisata Bali.
“Penglipuran punya ikon yang kuat, yakni lingkungan yang bersih dan tertata. Ini yang terus kami jaga, ditambah dengan inovasi-inovasi baru,” jelasnya.
Sebagai bentuk peningkatan kualitas pengalaman wisata, pengelola secara rutin menggelar pentas budaya, terutama menjelang momentum besar seperti libur akhir tahun.
“Wisatawan tidak hanya datang melihat, tetapi juga merasakan pengalaman budaya Bali secara langsung,” tambahnya.
Homestay Warga Alami Peningkatan
Tak hanya kunjungan harian, sektor homestay berbasis rumah penduduk di Penglipuran juga mengalami peningkatan tingkat hunian. Saat ini terdapat sekitar 50 unit homestay milik warga yang siap melayani wisatawan.
“Wisatawan sekarang banyak yang ingin merasakan suasana pagi di desa, hidup berdampingan dengan masyarakat lokal,” ujarnya.
Pengelolaan homestay tersebut telah memiliki standar operasional yang jelas, mulai dari kebersihan, tata kamar, fasilitas dasar, hingga pelayanan kepada tamu.
“Kami sudah menetapkan SOP, sehingga wisatawan merasa nyaman dan aman saat menginap di rumah warga,” kata Sumiarsa.
Tantangan dan Harapan kepada Pemerintah
Terkait isu pariwisata Bali secara umum, Wayan Sumiarsa mengakui adanya tantangan yang perlu ditangani bersama, khususnya oleh pemerintah.
“Isu seperti kemacetan, alih fungsi lahan, persoalan sampah, hingga isu kesehatan sering menjadi keluhan wisatawan. Ini yang kemudian diangkat oleh negara lain sebagai celah persaingan pariwisata global,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini persaingan pariwisata bukan lagi bersifat lokal atau nasional, melainkan “global”, sehingga diperlukan langkah nyata dan terukur dari pemerintah.
Pengelolaan Sampah Mandiri Terus Diperkuat
Untuk urusan lingkungan, Desa Wisata Penglipuran sejak lama telah mengelola sampah secara mandiri melalui sistem pemilahan di sumber. Ke depan, upaya ini akan diperkuat dengan pembangunan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) pada tahun 2026.
“Dengan TPS3R nanti, kami tidak lagi memindahkan sampah ke luar desa. Semua dikelola di sumbernya,” jelas Sumiarsa.
Ajak Wisatawan Datang dan Rasakan Bali Asli
Di akhir pernyataannya, Wayan Sumiarsa mengajak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, untuk tetap berkunjung ke Penglipuran.
“Setiap destinasi punya keunikan. Penglipuran menawarkan Bali yang asli adat, budaya, lingkungan, dan keramahan masyarakatnya masih terjaga,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa wisatawan yang datang ke Penglipuran tidak sekadar berkunjung, tetapi mendapatkan pengalaman hidup sebagai orang Bali.
“Mari berkunjung ke Penglipuran, belajar tentang budaya Bali, menjadi orang Bali sehari, dan menikmati suasana desa yang sesungguhnya,” pungkasnya.
(Tim Newsyess)
TAGS :