News

Ritual Suci Ngerebeg Bangli: Ribuan Umat Padati Catus Pata Saat Kuningan Malam, Tradisi Ratusan Tahun untuk Menyucikan Jagat

 Senin, 01 Desember 2025

Kabupaten bangli

Newsyess.com, Bangli. 

Bangli | Newsyess.com - Suasana pusat Kota Bangli berubah menjadi lautan manusia pada Sabtu malam, 29 November 2025. Ribuan umat Hindu tumpah ruah menyemarakkan prosesi sakral “Ngerebeg”, ritual adat yang digelar rutin setiap Hari Raya Kuningan malam. Dengan iringan tabuh dan aroma dupa yang memenuhi udara, prosesi ini kembali menegaskan Bangli sebagai salah satu pusat tradisi leluhur Bali yang tetap lestari hingga kini.

Tradisi Ngerebeg telah berlangsung sejak era pemerintahan Bupati I B.G.A. Ladip pada tahun 1990, dengan pusat kegiatan di Catuspata, perempatan agung Kota Bangli. Titik ini menjadi ruang sakral pertemuan energi empat penjuru desa, sekaligus tempat berdirinya Patung Tri Murti di sebelah utara Pasar Kidul Bangli. Dari sinilah ritual penyucian jagat raya dimulai.

Jejak Sejarah Ritual dan Hilangnya Tradisi Barong Mapadu

Sebelum Ngerebeg menjadi ritual resmi seperti sekarang, masyarakat adat Bangli yang terkenal banyak “nyungsung barong” pernah memiliki tradisi besar bernama Sangkepan Barong atau Barong Mapadu. Pada masa kekuasaan Raja Bangli, Anak Agung Ketut Ngurah (Regent Bangli), tradisi ini dilaksanakan secara rutin sebagai bagian dari upacara besar penyucian wilayah.

Namun, seiring waktu, sangkepan barong dihentikan. Banyaknya warga yang mengalami kerauhan dan kekhawatiran potensi konflik antar banjar membuat para tetua adat sepakat mengakhiri tradisi tersebut. Kini, ritual penyucian diwujudkan melalui prosesi Ngerebeg yang lebih terstruktur, damai, dan menyatukan seluruh banjar di jantung kota Bangli.

Makna Filosofis: Menyucikan Catuspata, Menjaga Keselamatan Jagat

Ketua PHDI Kabupaten Bangli, Drs. I Nyoman Sukra, menjelaskan bahwa Ngerebeg adalah warisan spiritual turun-temurun yang mengandung makna mendalam. Ritual ini merupakan permohonan kepada Sang Hyang Catuspata agar turun ke dunia memberikan keselamatan, kesejahteraan, dan perlindungan dari segala bentuk gangguan, baik sekala maupun niskala.

Menurutnya, pelaksanaan di pusat kota bukan tanpa alasan. Catuspata dipercaya sebagai titik turunnya aura keselamatan dari Dewa Siwa, sekaligus tempat berkumpulnya segala unsur negatif seperti penyakit. Karena itu, Ngerebeg menjadi prosesi meruwat dan menyucikan jagat agar kembali harmonis.

Empat Banjar, Empat Arca Barong, Satu Kesatuan Ritual

Prosesi ini melibatkan empat banjar adat yang berada di zona “nyatur desa”, yaitu:

* Banjar Kawan
* Banjar Blungbang
* Banjar Pande
* Banjar Geria

Dari masing-masing banjar, Ida Batara dalam wujud arca barong diusung dari pura penyungsung, yaitu:

* Dalem Purwa (menghadap barat)
* Dalem Penunggekan (menghadap selatan)
* Dalem Gede Selaungan (menghadap utara)
* Dalem Pegringsingan (menghadap timur)

Keempat arca ini ditempatkan saling berhadapan di Catus Pata, membentuk simbol “nyatur desa” garis kosmis empat penjuru. Setelah upacara katuran ayaban dan caru agung, Ida Batara kemudian diarak malancaran mengelilingi desa penyungsung. Pada momen ini, fenomena kerauhan kerap terjadi sebagai bagian dari ekspresi spiritual umat.

Ngerebeg, Warisan yang Terus Menyala

Di tengah modernisasi, Ngerebeg menjadi bukti bahwa masyarakat Bangli terus menjaga identitas, keyakinan, dan warisan leluhur mereka. Ribuan umat yang hadir setiap tahun menandakan bahwa prosesi ini bukan sekadar ritual, tetapi penegasan harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan niskala yang dipercaya menjaga keseimbangan jagat.
(Tim Newsyess)


TAGS :