Ekonomi

Tenun Pringgasela, Warisan Sakral Suku Sasak yang Menembus Panggung Dunia

 Rabu, 08 April 2026

Kodam 9 udayana,

Newsyess.com, Bali. 

LOMBOK TIMUR | Newsyess.com – Di tengah derasnya arus modernisasi, kekayaan budaya Nusantara terus menunjukkan daya tahannya. Salah satu yang tetap bersinar adalah Tenun Pringgasela, wastra tradisional khas masyarakat Sasak yang berasal dari Desa Pringgasela. Kain ini bukan sekadar produk kerajinan, melainkan simbol identitas, spiritualitas, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Tenun Pringgasela memiliki ciri khas pada motif garis-garis sederhana yang sarat makna filosofis. Tidak seperti kain tradisional lainnya, tenun ini tidak menampilkan motif makhluk hidup. Hal tersebut berkaitan dengan nilai kesakralan yang diyakini masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.

Lebih dari sekadar estetika, setiap helai kain mengandung cerita kehidupan. Salah satu motif yang paling dikenal adalah “Sabok Beranak”, yang merepresentasikan siklus kehidupan manusia—lahir, menjalani kehidupan, hingga kembali ke Sang Pencipta. Filosofi ini menjadikan Tenun Pringgasela bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya akan nilai spiritual.

Seiring perjalanan waktu, Tenun Pringgasela juga mengalami perkembangan melalui interaksi budaya, khususnya pengaruh dari pedagang Bugis dan Makassar. Asimilasi tersebut melahirkan ragam motif baru tanpa menghilangkan esensi tradisionalnya, menjadikan tenun ini semakin dinamis dan adaptif terhadap zaman.

Keaslian proses pembuatan menjadi salah satu kekuatan utama Tenun Pringgasela. Hingga kini, para pengrajin masih setia menggunakan metode tradisional dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) atau “gedogan”. Bahan baku berupa kapas alami dipintal вруч secara manual, sementara pewarnaannya memanfaatkan bahan-bahan alami seperti daun ketapang, daun tarum, dan tunjung. Proses ini membutuhkan ketelatenan tinggi dan waktu yang tidak singkat, sehingga setiap kain memiliki nilai eksklusivitas yang tinggi.

Beragam motif yang berkembang di kalangan masyarakat Sasak turut memperkaya khazanah tenun ini. Motif Pucuk Rebong melambangkan pertumbuhan dan harapan, biasanya dikenakan oleh pria dalam upacara adat. Motif Sundawa hadir dengan perpaduan garis dan bentuk geometris, kerap digunakan dalam momen pernikahan. Sementara itu, motif Sari Menanti menawarkan sentuhan lebih modern yang kini diminati generasi muda.

Upaya pelestarian Tenun Pringgasela juga tidak lepas dari peran para pengrajin lokal yang penuh dedikasi. Salah satunya adalah Ny. Lilik Mariana, anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXIX Kodim 1615/Lombok Timur. Melalui UMKM yang dikelolanya, ia konsisten menjaga tradisi keluarga sekaligus mengembangkan inovasi agar tetap relevan di pasar modern.

Dalam prosesnya, pembuatan satu kain dapat memakan waktu antara satu hingga tiga bulan. Dimulai dari pemilihan bahan kapuk berkualitas, pemintalan benang, pewarnaan alami, hingga proses penenunan yang dikerjakan dengan penuh ketelitian. Dukungan suaminya, Pelda Muhammad Nukman yang bertugas sebagai Babinsa, turut memperkuat langkahnya dalam melestarikan warisan budaya ini.

Tak hanya bertahan di tingkat lokal, Tenun Pringgasela kini mulai merambah pasar yang lebih luas. Melalui pemanfaatan media sosial, karya-karya tenun ini diperkenalkan ke khalayak global, membuka peluang baru bagi pengrajin sekaligus memperkuat eksistensi budaya Indonesia di mata dunia.

Tenun Pringgasela adalah bukti nyata bahwa tradisi tidak harus tertinggal oleh zaman. Ia justru mampu bertransformasi tanpa kehilangan jati diri. Lebih dari sekadar kain, tenun ini adalah cerita tentang ketekunan, identitas, dan kebanggaan akan budaya Nusantara yang terus hidup dan menginspirasi. (Tim Newsyess)


TAGS :